Seluruh jaringan transportasi kereta di Hong Kong tak bisa digunakan akibat para demonstran yang kembali menggelar aksi protes dan perusakan di sejumlah lokasi. Sistem kereta tak bisa digunakan sejak Sabtu (5/10).

Mereka menggelar aksi protes di sejumlah titik untuk menentang larangan pemakaian masker saat demonstrasi. Larangan itu sendiri baru diterbitkan Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam terhadap Jumat kemarin (4/10).

Melansir AFP, protes menjalar begitu cepat ke sejumlah area di Hong Kong. Dimulai oleh grup pekerja yang memblokade jalur di jantung area pusat usaha setempat.

Mereka sesudah itu sebabkan kerusakan stasiun kereta bawah tanah. Panorama api yang berkobar muncul di sejumlah ruas jalur raya.

Petugas kepolisian setelah itu berusaha membubarkan massa di sejumlah titik. Gas air mata berulang kali ditembakkan.

“Pemerintah tidak mendengarkan kami. Jadi kita menambah ‘permainan’,” tutur tidak benar seorang demonstran, Nathalie yang juga ikut sebabkan kerusakan stasiun kereta bawah tanah.

Suasana lebih mencekam berjalan di utara distrik Yuen Long. Seorang petugas kepolisian sampai menarik pelatuk senjata api yang dipegangnya.

Dia laksanakan perihal itu dikala massa pedemo mencegat dan mengitari dirinya yang tengah mengendarai mobil. Dia terhitung sempat dipukuli dan dilempar bom molotov.

“Sekelompok massa didalam jumlah besar menyerang seorang petugas memakai pakaian preman di distrik Yuen Long. Dia jatuh ke tanah dan dipukuli. Menghadapi ancaman serius, petugas berikut kemudian menembakkan pistolnya satu kali untuk membela diri,” tutur seorang petugas polisi.

Kerusuhan di sejumlah titik di Hong Kong sampai mengakibatkan semua sistem kereta api tak bisa digunakan itu merupakan buntut dari kebijakan Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam. Dia melarang pemanfaatan masker waktu demonstrasi.

Larangan berikut diterbitkan Lam pada Jumat kemarin (4/10). Baginya, larangan itu sebenarnya mesti diterbitkan.

“Kami saat ini berada didalam bahaya publik yang serius. Hal perlu bagi kita untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan ketertiban pada penduduk sesegera mungkin,” kata Lam.

“Kami percaya undang-undang baru ini bakal menciptakan dampak jera pada demonstran dan perusuh bertopeng (masker),” lanjutnya.

Ratusan pedemo kemudian mengepung distrik pusat usaha untuk menolak larangan tersebut. Para demonstran menjelaskan bakal memperluas aksi penolakan mereka pada Jumat malam (4/10).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *