Duh, KRI Usman Harun Dilecehkan Kapal Penjaga Pantai China

Angkatan Laut Indonesia mengirimkan sejumlah kapal kapal perang ke laut Natuna di tengah maraknya pencurian ikan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Tiga di antaranya adalah KRI Usman Harun-359 bersama KRI John Lie-358 dan KRI Karel Satsuit Tubun-356 yang melakukan patroli pada Sabtu 11 Januari 2020.

Namun keberadaan kapal perang ini tidak membuat kapal penjaga pantai China gentar. Sebagaimana dilaporkan Antara, kelompok patroli tersebut bertemu dengan enam kapal Coast Guard China dan satu kapal pengawas perikanan China.

Bukannya takut, kapal-kapal China itu justru berulah dan melecehkan kapal perang Indonesia. Ketika KRI Usman Harus mendekati kapal nelayan pukat China yang menangkap ikan di ZEE Indonesia yaitu di Natuna Utara alah satu Coast Guard China melakukan manuver dengan lampu sorotnya yang diarahkan ke KRI Usman Harun.

Pada suatu kesempatan Kapal Coast Guard China-5302 memotong haluan KRI Usman Harun-359 pada jarak 60 yards (sekitar 55 meter).

Pengusiran dan patroli dari 3 KRI pada kapal China di Natuna ini dilakukan dari pagi hingga malam hari pada Sabtu, 11 Januari 2020.

Setidaknya ada puluhan kapal nelayan ikan dengan dikawal kapal Coast Guard China yang masih berada di Natuna.

Posisi pada Sabtu, 11 Januari 2020 sejumlah kapal China berada pada 180 Mil dari pantai Ranai Natuna. Tiga KRI yaitu KRI Usman Harun, KRI John Lie dan KRI Satsuit Tubun berkoordinasi dengan Pangkogabwilhan 1 untuk menyampaikan peringatan pada kapal asing.

KRI Usman Harun adalah dua dari tiga frigat yang dibuat di Inggris dan dibeli bekas dari Brunei. Dua kapal lain adalah KRI John Liedan KRI Bung Tomo.

Tiga kapal ini sebelum sempat akan dibeli Brunei Darussalam. Namun Brunei membatalkan pembelian karena kapal terlalu besar untuk negara sekecil Brunei.

Kapal ini dari jenis fregat ringan atau multi role linght fregate (MRLF) yang mempunyai berat 2300 ton, panjang 95 meter, lebar 12,7 meter serta didukung dengan empat motor pendorong pokok COCAD (Combined Diesel And Diesel). Kapal ini mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 31 knots.

Kapal dilengkapi dengan sistem persenjataan yang tergolong mutakhir, seperti peluru kendali anti kapal permukaan MM 40, peluru kendali anti serangan udara Sea Wolf, meriam 76 mm, meriam 30 mm, dan torpedo anti kapal selam. Didukung oleh sistem kendali persenjataan, navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan baik, kapal jenis MRLF tersebut dirancang untuk mampu bertempur menghadapi ancaman, baik dari atas air, bawah air maupun udara.

Turki Berusaha Mendapatkan Teknologi S-500 dari Rusia

Turki sepertinya semakin menjauhkan diri dari NATO ddan Amerika. Setelah membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia yang membuat Amerika berang, Ankara kini dilaporkan sedang mencari teknologi dan senjata pertahanan udara sekelas S-500 jika negara-negara barat, khususnya AS dan Prancis, terus menolak akses Ankara ke teknologi mereka.

“Setiap keengganan Barat untuk berbagi teknologi karena alasan politik akan mengarahkan kami untuk mencari teknologi alternatif di negara-negara di mana kami tidak memiliki masalah politik. Paling eksklusif termasuk Rusia,” seorang pejabat Turki yang bertanggung jawab atas pengadaan pertahanan negara sebagaimana dilaporkan Defense News.

Pejabat itu menolak untuk mengomentari kemajuan negosiasi Ankara dengan Moskow pada S-500, hanya mencatat bahwa “semua berjalan dengan baik seperti yang direncanakan”.

Kata-katanya dikonfirmasi oleh seorang diplomat Turki yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan kepada Defense News bahwa Ankara menekankan pada perolehan teknologi sistem S-500 yang muncul.

“Ada pemahaman [di Ankara] untuk sejauh mungkin mendapatkan teknologi Rusia selama sekutu Barat kami terus merampas kami dari teknologi yang sama,” kata diplomat itu.

Sebelumnya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Moskow dan Ankara telah membahas kemungkinan produksi bersama sistem pertahanan udara S-500 yang mutakhir. Turki juga berupaya untuk memproduksi bersama sistem pertahanan udara S-400, yang baru-baru ini dibeli dari Rusia.

Akuisisi senjata pertahanan udara S-400 dari Moskow menyebabkan keretakan antara Turki dan negara-negara barat, terutama dengan Amerika yang menuntut agar Ankara membatalkan perjanjian itu.

Gedung Putih berpendapat bahwa sistem Rusia mungkin mengungkapkan rahasia yang berkaitan dengan jet F-35. Selain itu, Washington mengklaim bahwa sistem tersebut tidak sesuai dengan jaringan pertahanan NATO, meskipun S-300 Yunani berhasil diintegrasikan dengannya.

Terlepas dari tekanan Gedung Putih, Turki tetap pada kesepakatan dengan Moskow dan menyebut S-400 penting untuk pertahanan nasional negara itu. Ankara menolak untuk mengubah keputusannya bahkan ketika Washington menghentikan pasokan F-35 ke negara itu dan mengancam akan menerapkan sanksi ekonomi terhadapnya.

Erdogan berulang kali menunjukkan bahwa Washington menolak untuk menjual rudal Patriot ketika Ankara berusaha membelinya dan karenanya negara itu terpaksa mencari alternatif.

Turki juga berusaha untuk membeli pertahanan rudal SAMP / T dari bisnis Franco-Italia Eurosam, tetapi baru-baru ini menghadapi hambatan ketika pemerintah Prancis mencoba merusak kesepakatan tersebut menyusul dimulainya serangan Turki di Suriah pada 2019.

Siluman di Perbatasan Indonesia, Amerika Izinkan Singapura Beli 12 F-35B

Singapura hampir bisa dipastikan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang akan menerbangkan jet tempur generasi kelima. Itu artinya jet tempur siluman akan berkeliaran sangat dekat dengan Indonesia.

Departemen Luar Negeri Amerika telah menyetujui kemungkinan penjualan 12 jet tempur F-35B ke Singapura dalam kesepakatan senilai lebih dari US$2,7 miliar.

“Departemen Luar Negeri telah membuat keputusan untuk menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing ke Singapura hingga 12 pesawat lepas landas pendek dan pendaratan vertikal F-35B dan peralatan terkait dengan perkiraan biaya US$ 2,750 miliar,” kata Defence Security Cooperation Agency (DSCA) dalam rilisnya Kamis 9 Januari 2020.

Awal bulan ini, Defence Contract Management Agency (DMCA) Pentagon mengatakan bahwa Lockheed mengirim 134 jet tempur pada tahun 2019. Sejak tahun 2016, 458 jet telah dikerahkan dari sekitar 3.500 pembelian yang direncanakan oleh Amerika dan sekutunya, dari Australia ke Polandia.

Tahun lalu, Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen mengumumkan bahwa negara tersebut akan mengirimkan surat permintaan kepada pemerintah Amerika untuk membeli empat F-35B dengan tujuan akhirnya membeli 12.

Dalam dalam kesepakatan yang diusulkan juga mencakup hingga 13 mesin Pratt & Whitney F135, peperangan elektronik dan sistem komunikasi yang tidak ditentukan, peralatan pelatihan, dan Sistem Informasi Logistik Autonomis yang digunakan untuk perencanaan misi, pemeliharaan, dan fungsi logistik lainnya.

“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat. Singapura adalah sekutu strategis dan Mitra Kerjasama Keamanan Utama dan kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia Pasifik, ”kata DSCA sebagaimana dilaporkan Defense News.

“Penjualan F-35 yang diusulkan ini akan menambah inventaris pesawat terbang operasional Singapura dan meningkatkan kemampuan pertahanan diri udara ke udara dan udara ke darat, menambah pencegahan yang efektif untuk mempertahankan perbatasannya dan berkontribusi pada operasi koalisi dengan sekutu lainnya dan pasukan mitra. ”

Singapura biasanya membeli pesawat tempurnya dalam jumlah kecil. Jika negara bergerak maju dengan membeli F-35, kemungkinan akan menggunakan jet-jet itu untuk mulai mengganti armada 60 pesawat tempur Lockheed Martin F-16C / D Blok 52/52 +, dan pesanan F-35 lebih lanjut kemungkinan akan dilakukan.

Sebuah kontrak dengan Lockheed Martin akan menjadikan Singapura negara ke-12 yang membeli F-35, mengikuti Australia, Belgia, Denmark, Israel, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat.

Kanada, mitra program F-35, belum berkomitmen untuk membeli jet, sementara Turki ditangguhkan dari program ini tahu lalu karena keputusannya untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia.

Pesawat Boeing 737 Jatuh di Iran, Seluruh Penumpang Tewas

Seluruh penumpang pesawat Boeing 737 yang jatuh di Bandara Imam Khomeini di Teheran, Iran, dilaporkan tewas.

Dikutip dari AFP, pesawat Ukraine International Airlines itu jatuh tak lama setelah lepas landas, Rabu (8/1) pagi waktu setempat. Pesawat itu mengangkut 176 orang, yang terdiri dari 167 penumpang, dan sembilan kru.

“Sulit kemungkinan bahwa penumpang dalam penerbangan PS-752 masih hidup,” kata kepala Bulan Sabit Merah Iran kepada kantor berita ISNA. Sepuluh ambulans juga telah dikerahkan ke lokasi kejadian.

Dilansir dari CNN, Kepala Layanan Medis Darurat Iran Pirhossein Koulivand mengatakan petugas darurat telah dikerahkan ke tempat kejadian, akan tetapi tindakan penyelamatan belum dapat dilakukan karena api masih terus berkobar.

Belum diketahui penyebab kecelakaan itu. Dugaan sementara pesawat itu jatuh karena masalah teknis.

Layanan pelacakan penerbangan FlightRadar 24 mengatakan dalam sebuah tweet bahwa jet tersebut telah beroperasi selama sekitar tiga setengah tahun. (dea)

Sumber : viva.co.id

Kapal China Bertahan di Natuna, TNI Kirim 8 KRI Berpatroli

TNI mengerahkan delapan Kapal Republik Indonesia (KRI)

ini dilakukan lantaran sejumlah kapal nelayan China masih bertahan di Perairan Natuna hingga saat ini.

“Kami perkuat hingga delapan KRI di daerah operasi,” kata Kepala Dinas Penerangan Koarmada I Letkol Laut (P) Fajar Tri Rohadi lewat pesan singkat kepada xxx, Senin (6/1).

Dia mengatakan bahwa situasi di Perairan Natuna belum banyak berubah sejak Minggu (5/1).

Pihaknya, lanjut Fajar, masih terus melakukan upaya mengatasi situasi tersebut dengan melakukan berbagai pengembangan langkah sesuai perkembangan situasi di lapangan.

“Kondisi belum banyak berubah dari kemarin,” tutur Fajar.

Sebelumnya, Fajar menyampaikan bahwa hingga Minggu (5/1) kapal nelayan China masih bertahan di Perairan Natuna. Ia mengatakan kapal-kapal asing tersebut bersikukuh melakukan penangkapan ikan yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai, Natuna.

“Mereka didampingi dua kapal penjaga pantai dan satu kapal pengawas perikanan China,” kata Fajar dalam konferensi pers di Pangkalan Udara TNI AL di Tanjungpinang, Kepri, Minggu (5/1) dikutip dari Antara.

Fajar menegaskan bahwa TNI sudah melakukan gelar operasi dengan menurunkan dua unsur KRI guna mengusir kapal asing tersebut keluar dari Laut Natuna.

“Kami juga gencar berkomunikasi secara aktif dengan kapal penjaga pantai China agar dengan sendirinya segera meninggalkan perairan tersebut,” katanya.

Operasi ini, kata dia, tidak memiliki batas waktu sampai kapal China betul-betul angkat kaki dari wilayah maritim Indonesia.

Presiden Joko Widodo sendiri telah menyatakan bahwa pemerintah tidak akan berkompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia, terkait polemik klaim kepemilikan perairan Natuna oleh China. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman.

“Tak ada kompromi dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia,” kata Jokowi melalui Fadjroel yang disampaikan kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (4/1).

Kendati begitu, Jokowi tak membantah bila pemerintah tetap memprioritaskan kebijakan diplomatik damai dalam menyelesaikan polemik dengan Negeri Tirai Bambu itu. Langkah ini merupakan arahan dari kepala negara.

Erdogan Resmi Umumkan Akan Kirimkan Pasukan Ke Libya

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan konsep mengirim pasukan ke Libya, untuk menunjang Pemerintah Perjanjian Nasional (GNA) yang diakui dunia. Dalam pidatonya di Ankara, Erdogan tunjukkan dapat mengirim usulan itu ke parlemen yang dapat bersidang pada 7 Januari mendatang. Kepada partainya, AK Parti, dia mengatakan pengiriman pasukan Turki ke Libya berjalan sehabis mereka mendapat permintaan.

“Atas izin Tuhan, usul kita itu dapat lolos pada 8-9 Januari, supaya kita sanggup segera beri tambahan respons,” ujarnya. Menyusul pengumuman Erdogan, Menteri Dalam Negeri Fathi Bashagha tunjukkan Libya sanggup berharap pemberian jika perang di Tripoli meningkat. “Jika kondisi mengalami eskalasi, maka kita mempunyai hak untuk menjaga Tripoli maupun warganya,” kata Bashagha dilansir Al Jazeera Kamis (26/12/2019). November lalu, pejabat Turki dan Libya, yang dipimpin Perdana Menteri GNA Fayez al-Sarraj, meneken nota kesepahaman kerja serupa bidang keamanan dan militer. Ankara perlu keinginan formal dari Tripoli sebelum sanggup mengajukan usulan yang dapat diserahkan ke parlemen. Menurut jurnalis Al Jazeera Mahmoud Abdelwahed berujar, nota kesepahaman pada dua negara tak mengatakan pengiriman pasukan. “Karena itu, Erdogan butuh keinginan formal sebelum kemudian melanjutkan dengan pengajuan usulan kepada parlemen,” terang Abdelwahed. Pengumuman itu dibuat sehabis Erdogan jalankan kunjungan mendadak ke Tunisia, dan berjumpa Presiden Kais Saied peranan mengupas perkembangan Libya.

Negara di utara Afrika itu mengalami gejolak sejak aksi yang di dukung NATO menjungkalkan pemimpinnya, Muammar Gaddafi, 2011 silam. Sejak 2014, negara itu terpecah menjadi dua faksi, bersama dengan GNA yang di dukung dunia mengontrol Tripoli dan bermarkas di barat laut.

Sementara pemerintahan Tentara Nasional Libya (LNA) bermukim di timur, dan dipimpin loyalis Gaddafi, komandan Khalifa Haftar. Sejak awal April, Haftar telah menggelar serangan untuk merebut Tripoli, di mana dia menuduh GNA menyusupkan “elemen teroris”. Turki dan Qatar mendukung GNA. Sementara Rusia, Mesir, Arab Saudi, hingga Perancis mengambil keputusan berada di segi Haftar. Abdelwahed menjelaskan, pengiriman tentara Turki ke Libya dapat mendukung pasukan GNA dalam menjaga Tripoli. Dia memaparkan berdasarkan Info dari komandan GNA, loyalis Haftar telah menguasai lokasi strategis di selatan Tripoli. Selain itu, GNA terhitung mengaku kuatir sebab lihat ada campur tangan Rusia di Haftar, yang sempat dibantah Moskwa November lalu. “Karena itu, kehadiran serdadu Turki di tanah Libya tahu dapat mendukung memberikan perbedaan,” terang Abdelwahed.

Negara di utara Afrika itu mengalami gejolak sejak aksi yang di dukung NATO menjungkalkan pemimpinnya, Muammar Gaddafi, 2011 silam. Sejak 2014, negara itu terpecah menjadi dua faksi, bersama dengan GNA yang di dukung dunia mengontrol Tripoli dan bermarkas di barat laut.

Sementara pemerintahan Tentara Nasional Libya (LNA) bermukim di timur, dan dipimpin loyalis Gaddafi, komandan Khalifa Haftar. Sejak awal April, Haftar telah menggelar serangan untuk merebut Tripoli, di mana dia menuduh GNA menyusupkan “elemen teroris”. Turki dan Qatar mendukung GNA. Sementara Rusia, Mesir, Arab Saudi, hingga Perancis mengambil keputusan berada di segi Haftar. Abdelwahed menjelaskan, pengiriman tentara Turki ke Libya dapat mendukung pasukan GNA dalam menjaga Tripoli. Dia memaparkan berdasarkan Info dari komandan GNA, loyalis Haftar telah menguasai lokasi strategis di selatan Tripoli. Selain itu, GNA terhitung mengaku kuatir sebab lihat ada campur tangan Rusia di Haftar, yang sempat dibantah Moskwa November lalu. “Karena itu, kehadiran serdadu Turki di tanah Libya tahu dapat mendukung memberikan perbedaan,” terang Abdelwahed.

Pesawat Berisi 100 Lebih Penumpang Jatuh Dipemungkiman Warga

Sebanyak sembilan orang dilakukan konfirmasi tewas dan lebih dari satu lainnya terluka setelah pesawat maskapai Bek Air jatuh di dekat Bandara Almaty, Kazakhstan, terhadap Jumat (27/12).

Berdasarkan Badan Penerbangan Sipil Kazakhstan, pesawat yang mengangkut 100 penumpang termasuk lima awak itu “kehilangan kendali ketinggian pas terlepas landas sampai menerobos pagar beton” sebelum akan menabrak sebuah bangunan.

Dikutip Al Jazeera, pihak Bandara Internasional Almaty menuturkan sudah membentuk komisi spesifik untuk menyelidiki kecelakaan tersebut.

Sejumlah gambar yang diunggah di fasilitas sosial membuktikan sejumlah petugas penyelamat sudah dikerahkan ke lokasi kejadian.

Menurut situs pelacak penerbangan Flightview.com, pesawat style Fokker 100 itu dijadwalkan meninggalkan Almaty terhadap pukul 07.05 pas lokal dan tiba di Ibu Kota Astana terhadap 08.40.

Presiden Kazakhstan Kasyym-Jomart Tokayev membuktikan belasungkawa kepada seluruh penumpang dan kerabat keluarga yang ditinggalkan.

“Semua korban yang terluka bakal mendapat bantuan. Semua yang bertanggung jawab bakal menanggung hukuman berat cocok dengan hukum yang ada,” kata Tokayev dikutip kantor berita Kaz Inform.

Israel Akui Ada Kesalahan Atas Serangan Gaza Tersebut

Tentara Israel mengakui serangan di Gaza yang menewaskan sembilan bagian keluarga disebabkan oleh penilaian yang keliru terhadap warga sipil.

Dilansir dari AFP, serangan udara 14 November menargetkan rumah Rasmi Abu Malhous. Tokoh yang dideskripsikan oleh Israel sebagai komandan Jihad Islam, gerakan gerilyawan Palestina di mana Israel udah melancarkan kampanye selama tiga hari.

Rasmi dan delapan bagian keluarganya terbunuh oleh serangan itu, terhitung lima anak.

Melalui pernyataannya, pihak tentara mengatakan bahwa intelijen yang dihimpun sebelum serangan tersebut mengindikasikan bahwa kediaman itu “ditetapkan sebagai kompleks militer organisasi teror Jihad Islam”.

Tentara udah memperkirakan bahwa warga sipil tidak dapat dirugikan akibat serangan di wilayah itu, yang diyakini tidak mampu diakses oleh bagian masyarakat. Namun penyelidikan militer sesudah itu menemukan perihal lain.

“Bahwa walaupun kesibukan militer dikerjakan di markas, daerah itu bukan kompleks tertutup, dan terhadap sesungguhnya warga sipil hadir di sana,” katanya.

Pihak tentara tunjukkan dapat belajar dari kekeliruan sehingga kejadian serupa tidak terulang. Tentara mengklaim pihaknya udah melaksanakan “upaya besar … untuk kurangi kerusakan terhadap non-pejuang”.

Laporan militer terhitung menyalahkan Jihadis sebab mengeksploitasi dan membahayakan non-kombatan bersama memasang aset militernya di jantung populasi sipil, selain bersama sengaja melakukan tindakan dari didalam wilayah sipil yang padat penduduk.

Gejolak tiga hari di awali dikala Israel membunuh seorang pejabat senior Jihadis di Gaza terhadap 12 November.

Kelompok Islam, yang bersekutu erat bersama penguasa Gaza Hamas, merespons bersama menembakkan lebih dari 450 roket ke Israel. Selama konfrontasi, pasukan Israel menyerang puluhan target di kantong.

Para pejabat Palestina mengatakan 35 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 100 lainnya terluka. Tidak ada korban jiwa Israel.

Dalam laporan Selasa lalu, tentara Israel mengatakan operasi November udah berhasil mengimbuhkan pukulan terhadap grup Jihadis dan melayani untuk meningkatkan keamanan warga sipil Israel dan menolong menghindar “kampanye militer yang lebih luas.”

Demonstran dan Polisi Hong Kong Kembali Bentrok Pada Malam Natal

Malam Natal di Hong Kong terhadap Selasa (24/12) diwarnai dengan bentrokan antara demonstran dan polisi. Bahkan baku hantam itu berlangsung hingga ke dalam pusat perbelanjaan.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (25/12), demonstran garis keras yang mengenakan kaus hitam mendadak turun ke jalan dan menghancurkan sejumlah toko. Polisi lantas menanggapinya dengan mengirimkan bagian unit antihuru-hara.

Polisi lantas menembakkan gas air mata dan menangkap sejumlah pengunjuk rasa.

Unjuk rasa yang sudah berlangsung sepanjang enam bulan di Hong Kong belum membuktikan gejala bakal berakhir. Meski Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, memastikan mencabut Rancangan Undang-Undang Ekstradisi yang sebelumnya jadi pemicu aksi, namun dia menolak mengabulkan sejumlah tuntutan lainnya yang diajukan para pengunjuk rasa.

Para demonstran mendesak Lam mundur dan meminta jaminan kebebasan berekspresi dan politik, dan juga mendesak ribuan kawan mereka yang ditangkap dan mengusut kekerasan oleh polisi.

Demonstrasi itu berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Hong Kong.

Pasukan Filipina Selamatkan 2 Pelaut Asal Indonesia

Pasukan Filipina menyelamatkan dua pelaut Indonesia berinisial SM dan ML yang diculik kelompok Abu Sayyaf terhadap Minggu pagi (22/12). Dua orang ini termsuk di antara tiga pelaut Indonesia yang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf terhadap September selanjutnya di perairan Malaysia di dekat ujung selatan Mindanao, Filipina.

Seorang pejabat militer mengungkap bahwa, serangan terhadap markas militan Islam ini menewaskan dua orang yaitu tentara dan militan kelompok tersebut.

Serangan ini berjalan selama 30 menit di pegunungan Panamao di Pulau Selatan Jolo.

“Selama baku tembak, ke dua korban (Indonesia) berhasil melarikan diri dan kami dapat menyelamatkan mereka,” kata Komandan Militer Letnan Jenderal Cirilito Sobejana kepada AFP.

Berdasar keterangan berasal dari Kementerian Luar Negeri RI , SM dan ML dapat menekuni kontrol kesehatan dan selanjutnya dapat segera direpatriasi ke Indonesia.

Sobejana mengatakan bahwa operasi militer masih berjalan untuk menyelamatkan tawanan Indonesia lainnya yang berinisial MF.

“Dia dapat saja melarikan atau masih ditahan oleh kelompok tersebut, menjadi kami dapat laksanakan operasi militer lagi,” katanya.

Operasi penyelamatan ini berjalan sebulan sesudah seorang pria Inggris dan istrinya dibebaskan oleh pasukan Filipina. Mereka sempat diancam dapat dipancung oleh kelompok selanjutnya jika tak diberi uang tebusan.

Sebelumnya, terhadap Mei lalu, pengamat burung Belanda Ewold Horn dibunuh oleh para penculiknya ketika dia mencoba melarikan diri selama operasi penyelamatan. Sebelumnya dia sempat ditahan selama tujuh tahun.